Nenek Moyangku Seorang Pelaut 04/26/2009
Posted by ageng in Catatan Hidup.Tags: Catatan Hidup
trackback
Ingat dengan nyanyian nenek moyangku seorang pelaut ? Mungkin sering kita nyanyikan sewaktu Tk dahulu . Tapi ini bukanlah cerita tentang itu, tapi nggak jauh – jauh bedalah . Jika teman – teman sudah membaca beberapa postinganku sebelum ini, pasti tahu jika sebelumnya aku berwisata ke Pulau Bali dan ini adalah cerita di sebuah tempat pariwisata disana .
Bicara tentang Bali pasti langsung terbayang pantai yang dipenuhi bule – bule, tapi tempat ini berbeda, tidak ada pantai, tidak panas, kalau bulenya sih masih ada walau sedikit . Danau, pepohonan, bukit, yang jelas bukan kintamani, yups jawabannya Bedugul . Karena aku dan teman – temanku termasuk orang yang suka tantangan, jadi kita coba sewa perahu untuk putar – putar danau, samakan kayak nenek moyang ?-?
( Sebenarnya karena uang udah pada abis dan sewa perahu dayung paling murah,hehehe )
Sebelumnya aku mewakili teman – teman ingin mengucapkan maaf untuk cewek – cewek yang kami tinggalkan di tengah danau . Berawal dari niatanku, biyas, srundeng, randi, dan amin untuk mengakhiri liburan kami secara berkesan dengan jalan menyewa sebuah perahu dayung . Maka timbulah percakapan sbg berikut :
Srundeng : Wah, nggateli, masak sewane nempuluhlima ewu ( 65 ribu )
Biyas : Wis rapapa, go gayeng – gayengan wae ndeng.
Yang lain : He,eh, rapapa . . .
Amin : Wah nek ngeneki iso cepet sugih no ?
Biyas : Lha ngapa ?
Amin : Lha iki nek ngko mati oleh 7,5 juta, cacat tetap 7,5 juta, biaya perawatan 7,5 ribu.
Ageng : Lha sing dipateni sapa ?
Biyas : Srundeng wae . . .
Randi : Ojo no, lha nek 7,5 juta dibagi saudarane srundeng sing enek 8 ditambah wong tuane, dewe intuk apa ?
Srundeng : Ndase !
Yang lain : Hahahaha. . .
Bapak2 : Dek kamu nanti sama saya, sekarang kita cari perahu dulu .
Amin : Sing abang wae, gen ketok sangar ?
Bapak2 : Perahu kamu yang ini, nanti kamu berlima, saya menemani yang perempuan di sana. Nanti kalau belok kanan ndayungnya ke kiri .
Semua : Wah . . .
Satu, Dua, Tiga, dengan aba2 dari khaerandi yang ada didepan kami melaju ke tengah danau . Awalnya terlihat meyakinkan tapi sebenarnya sedari tadi kami hanya berputar – putar, jadi setiap perahu berputar kamipun menyesuaikan diri dengan membalik badan, sehingga khaerandi yang awalnya ada di depan menjadi di belakang dan sebaliknya .
Daripada bingung kami keluarkan jurus rahasia yaitu ( mencontek ) dengan cara melihat perahu lain berjalan, yang penting tidak ada Guru yang mengawasi ,hahaha . Dengan semangat baru dan tujuan baru yaitu desa di seberang kami memacu perahu dayung itu sekali lagi .
Sesekali tsunami kecil yang diakibatkan oleh speedboat yang melintas menerpa kami . Sudah ¾ perjalanan kami lalui, namun sepertinya kami tidak beranjak dari tempat itu, mungkin karena arus dan angin yang menghalau terlalu besar . Terik matahari membuat kami menyerah, sehingga perahu sempat terombang – ambing untuk sesaat .
Terdengar beberapakali panggilan melalui microphone besar di atas menara untuk siswi asal semarang dan pemberitahuan bahwa jam makan siang kami telah tiba . keadaan di tepi danau sangat sepi, yang tersisa tinggal 2 perahu di danau, kami dan perahu lain .
“Pussy” ( panggilan srundeng untuk anak2 perempuan ) Srundengpun mengajak kami mendekati perahu lainnya yang dinaiki oleh beberapa anak perempuan . Berbeda saat menuju desa seberang, saat mendekati perahu itu jalan kami lurus dan sangat cepat, sungguh aneh ? Hampir saja kami bertabrakan dengan mereka dan terjadilah percakapan sbg berikut :
Cewek2 : Wah, pantes aja cepet, masnya keker2 ?
Kami : Hahahaha . . .
Cewek2 : ( saat akan bertabrakan ) Ah . . . ( menjerit )
Cewek2 : Minta dayungnya dong ? dayung kami tinggal dua .
Srundeng : Gimana ?
Randi : Wah, wis luwe iki, ora usah.
Srundeng : Mesakke . . .
Biyas : Iya ora usah wae .
Amin : Kae wis ra enek wong, ngko dewe ditinggal ?
Ageng : Ya wis, ben ngegie lewat restoran kuning kae .
Semua : O_K
Srundeng : Wah, sory ya, nie udah pada lapar . ( ngomong pada anank perempuan )
Akhirnya kami sampai juga di restoran dengan jalan menabrakkan perahu di penyangga restoran dan sepertinya bapak – bapak yang tadi marah terhadap kami . Sekali lagi maaf untuk anak – anak perempuan yang kami tinggalkan disana . . .






owalah crita sing kae toh
Uky : Wakaka, lha sing ndi, sing apik kui tok ?