jump to navigation

Cerpen 03/07/2009

Posted by ageng in Cerpen, Sastra.
Tags: ,
trackback

Sepasang Kaca Mata

Karya : Ageng Bella Dinata

Malam itu hp ku berbunyi, hp sonyericson model J230i berwarna abu – abu kelam kontras dengan warna biru laut yang tercemar minyak mentah di bagian depan kasingnya . Melihat hp itu aku teringat, bahwa dulu aku merengek – rengek pada kedua orangtuaku untuk membelikan hp sama persis seperti milik kakaku, namun kenyataanya hidupku terasa lebih mudah tanpa keberadaan hp ini di sampingku .

Aku sedikit terjaga , entah karena suara hp ku itu atau karena banyaknya nyamuk yang menyelimuti sekujur badanku , yang pasti alarm yang kupasang jam 2 dinihari itu bekerja sesuai pengaturanku . Tak seperti biasanya, hawa di sekitar begitu dingin hingga terasa meresap sampai ke dalam tulang – tulang ku dan entah mengapa aku merasakan ada yang aneh dengan tubuhku, panas namun terasa begitu dingin . Pagi itu ternyata aku terkena demam tinggi, kepalaku sangat pening, untuk berjalan saja seperti anak SD yang dipaksa menguraikan rumus limit trigonometri SMA, sukar. Bahkan pelajaran berjalan sewaktu aku balita dulu telah hilang, pergi dan mungkin takan kembali untuk beberapa saat ini karena jalanku sekarang berkelok – kelok seperti pemuda yang berjalan kaki di waktu subuh, pulang menuju rumahnya setelah semalaman berpesta miras di suatu tempat, pening, begitu pening kepalaku, mungkin karena itu .

Owh, seandainya nilai ulangan matematikaku seperti angka yang tertera pada tabung berisikan air raksa ini, genap 50 . Tak pernah sekalipun aku mendapat nilai ulangan matematika lebih dari 30, suatu kali aku mendapatkan nilai 55, itupun karena kesalahan koreksi dari guruku, sungguh sial . Hari Sabtu tanggal 7 Februari 2009, hari aku terkena demam , aku mengirim 3 buah sms, yang pertama dan kedua aku kirimkan pada temanku mengabari bahwa aku tak dapat masuk sekolah dan sms yang sebuah lagi kukirimkan untuk ibuku, mengabari bahwa aku sedikit demam. Kini aku memang tidak tinggal serumah dengan orangtuaku, bukan karena aku pergi melarikan diri karena orangtuaku akan menjodohkanku atau karena aku memiliki seorang ibu baru lebih tepatnya ibu tiri baru atau karena aku diusir dari rumah sebab melakukan perbuatan yang melanggar peraturan dan norma tapi karena aku memang memilih sekolah yang jauh dari kota kelahiranku, dari orangtuaku, dari teman – temanku, dari kamar tidurku yang paling kusayangi dan dari kenangan – kenangan indah yang ku alami semasa kecil .

Kini aku tinggal di sebuah kamar dengan ukuran 4 x 3 meter dengan cat putih dengan banyak bekas tempelan pada dindingnya, tirai berwarna coklat keemas – emasan dipadu dengan warna hijau yang sedikit pudar menutupi kaca yang menghadap kearah kamar kosong di depan , cukup meriah dengan tambahan beberapa poster bola, namun kamar ini terlalu lembab karena ventilasi yang kurang memadai, oleh karena itu tidak ada kata mati bagi lampu Philips panjang berwarna putih yang menempel pada atap kamarku walaupun itu pagi, siang atau malam karena cahaya tak sanggup atau yang lebih tepatnya sengaja dicipta tak dapat menjamah kamarku .

Kenyamanan ini bertambah dengan kasur kamarku yang besarnya dibuat untuk pasutri, ketika aku merebahkan tubuhku menghadap ke langit – langit tampak sebuah kipas angin yang menempel pada dinding timur kamarku . Putarannya sungguh kencang, tekadang aku merasa terlalu dingin karenanya . Dan ketika aku merebahkan tubuhku kearah kanan disana terlihat dinding lemari yang ditempeli kertas jadwal pelajaran, nama – nama guru lengkap dengan kode guru serta mata pelajaran yang diampuhnya . Aku tak mau berpikir lagi, sakit ini membuatku jera, menghilangkan stamina, dan membuatku sadar betapa besar nikmat Tuhan sewaktu aku sehat dulu .

Malam ini begitu dingin, ku benahi selimutku dan beranjak masuk ke dalam alam indah, damai, dimana aku menjadi sehat kembali, dan tak ada yang tak mungkin disana yaitu alam mimpi .

* * *

Hari dimana banyak orang sedang bersantai, berjalan – jalan dengan keluarga, pergi ke mall dengan teman – teman , tapi aku di sini di dalam kamar mandi mencuci pakaian yang sebegitu banyaknya . Huf, ada sedikit rasa kesal dalam hatiku, walau badan ini masih belum sehat total, tapi bagaimana lagi, mau tak mau jika esok aku telah sembuh aku harus berangkat ke sekolah, namun tidak mungkin jika seragamku belum aku cuci . Inilah tidak enaknya menjadi anak kost, walau kadang teman – temanku menginginkan hidup sepertiku ini, lebih bebas kata mereka .

Ku buka Hp ku, ada sebuah sms yang masuk, dari ayah ku . Aku segera bergegas mengeluarkan motorku, motor honda buatan tahun 2002 dengan warna biru kelam di padukan hijau tua di bagian bawahnya . Motor berplat R ini aku pacu tak terlalu kencang . Aku lihat dari kejauhan di kanan pertigaan terdapat seorang laki – laki berumur 50 tahunan mengenakan polo shirt dan celana jeans birumuda dengan sandal kulit berwarna hitam yang ia kenakan . Ia memanggul sebuah tas besar di pundak kanannya, Ia ayah ku . Tak kusangka ia telah berjalan jauh dari stasiun tua di depan itu . Bersambung . . .

Advertisements

Comments»

1. Feefah Walker - 06/28/2010

sambungannya kemana, mas?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: