jump to navigation

Cerpen 03/26/2009

Posted by ageng in Cerpen, Sastra.
Tags: ,
1 comment so far

Begitupula Ayah

Karya : Ageng Bella Dinata

Seorang wanita akan merasa menjadi Ibu ketika ia mengandung anaknya, begitupula aku merasa telah menjadi seorang ayah ketika melihatmu yang mungil, dengan tangis kecil yang membuatku terharu, tersenyum, namun menahan air mata .

Ayah tidak pernah berkata akan menjadi panutan yang baik bagimu, namun setelah ibumu meninggal 5 tahun yang lalu, ayah hanya inginkan semua yang terbaik bagi dirimu, hanya itu . Ayah tidak mungkin mencari pengganti Ibumu, ia terlalu baik, tidak ada seorangpun yang dapat menggantikan posisinya dihati ayah, tidak terkecuali kau anakku . (more…)

Cerpen 03/21/2009

Posted by ageng in Cerpen, Sastra.
Tags: ,
8 comments

Maafkan Aku

Karya : Ageng Bella Dinata

Ayah, sebenarnya lidah ini ingin berkata . Namun apa daya, sesak hati menghilangkan kuasaku atas raga . Air mata ini mengalir bukan karena menangisi engkau, tapi karena aku mengutuk diriku sendiri, menyalahkan Tuhan atas takdirku, takdir menjadi anak laki – lakimu. (more…)

Puisi / Poetry 03/10/2009

Posted by ageng in Puisi, Sastra.
Tags: , ,
add a comment

Puisi

Karya : Ata / Uky

Bukan kata dibalut oleh sastra

Hanya jiwa utarakan rasa

Senang, sedih, suram .

Berjalan menorehkan tinta

Pena Untuk Ilustrasikan iSi hatI

(more…)

Cerpen 03/07/2009

Posted by ageng in Cerpen, Sastra.
Tags: ,
1 comment so far

Sepasang Kaca Mata

Karya : Ageng Bella Dinata

Malam itu hp ku berbunyi, hp sonyericson model J230i berwarna abu – abu kelam kontras dengan warna biru laut yang tercemar minyak mentah di bagian depan kasingnya . Melihat hp itu aku teringat, bahwa dulu aku merengek – rengek pada kedua orangtuaku untuk membelikan hp sama persis seperti milik kakaku, namun kenyataanya hidupku terasa lebih mudah tanpa keberadaan hp ini di sampingku .

Aku sedikit terjaga , entah karena suara hp ku itu atau karena banyaknya nyamuk yang menyelimuti sekujur badanku , yang pasti alarm yang kupasang jam 2 dinihari itu bekerja sesuai pengaturanku . Tak seperti biasanya, hawa di sekitar begitu dingin hingga terasa meresap sampai ke dalam tulang – tulang ku dan entah mengapa aku merasakan ada yang aneh dengan tubuhku, panas namun terasa begitu dingin . Pagi itu ternyata aku terkena demam tinggi, kepalaku sangat pening, untuk berjalan saja seperti anak SD yang dipaksa menguraikan rumus limit trigonometri SMA, sukar. Bahkan pelajaran berjalan sewaktu aku balita dulu telah hilang, pergi dan mungkin takan kembali untuk beberapa saat ini karena jalanku sekarang berkelok – kelok seperti pemuda yang berjalan kaki di waktu subuh, pulang menuju rumahnya setelah semalaman berpesta miras di suatu tempat, pening, begitu pening kepalaku, mungkin karena itu .

(more…)